Kamis, 24 Maret 2016

CONTOH PROPOSAL PRAKTIK KERJA LAPANG

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG



KERAGAMAN PERTUMBUHAN EMPAT KULTIVAR BIBIT TANAMAN MANGGIS (Garcinia mangostana L.) YANG BERASAL DARI SENTRA PRODUKSI  BERBEDA DI BALITBU TROPIKA











Oleh :


Khamilatun Khusna
11382203026








PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2016
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG



KERAGAMAN PERTUMBUHAN EMPAT KULTIVAR BIBIT TANAMAN MANGGIS (Garcinia mangostana L.) YANG BERASAL DARI SENTRA PRODUKSI  BERBEDA DI BALITBU TROPIKA











Oleh :


Khamilatun Khusna
11382203026








PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN DAN PETERNAKAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
2016


LEMBAR PENGESAHAN

Judul                    :    Keragaman Pertumbuhan Empat Kultivar Bibit Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L.) Yang Berasal Dari Sentra Produksi Berdeda Di Balitbu Tropika.
Nama                   :    Khamilatun Khusna
NIM                    :    11382203026
Program Studi     :    Agroteknologi



Menyetujui,

  Dosen Pembimbing,                                                  Pembimbing Lapangan




  Oksana, S.P, M.P                                                       Dr. Ir. Martias, MP
  NIP. 197604162009122002                                     NIP. 196411291991031002
                                                                                   




Mengetahui:




Dekan                                                                    Ketua
 Fakultas Pertanian dan Peternakan                         Program Studi Agroteknologi
                                                   




   Edi Erwan, S.Pt, M.Sc, P.hd                                 Oksana, S.P, M.P
   NIP. 19730904 199903 1 003                               NIP. 197604162009122002



KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan kerja lapangan dengan judul ” Keragaman pertumbuhan empat kultivar bibit tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) yang berasal dari beberapa sentra produksi  berbeda”.
Pelaksanaan kerja lapangan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Kedua Orangtua saya bapak Istono dan ibu Saryati dan Adik-adik saya yang selalu mensuport saya.
2.      Ketua Program Studi Agroteknologi ibu Oksana, S.P, M.Si yang telah membantu dalam proses perizinan kerja lapangan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok dan juga sebagai Dosen pembimbing pada praktek kerja lapangan ini  yang telah banyak membantu saya untuk dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik.
3.      Pembimbing lapangan saya bapak Dr. Ir. Martias, MP yang telah membantu saya sejak awal dalam melaksanakan praktek kerja lapangan dan juga dalam menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan in dengan sebaik-baiknya. Beserta dengan seluruh keluarga besar Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
4.      Keluarga besar bapak Amrizal dan ibu Ernawati yang telah menyediakan tempat yang nyaman dan makanan yang cukup untuk kami selama PKL.
5.      Kawan seperjuangan kerja lapangan di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, dan juga teman-teman mahasiswa Agroteknologi  angkatan 2013

Akhir kata, saya mohon maaf  apabila terdapat banyak kekurangan dalam kegiatan kerja lapangan ini. Semoga laporan kerja lapangan ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lainnya dan masyarakat Indonesia.
     Pekanbaru, Maret 2016



                                                                                          Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL.................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................. iv
DAFTAR SINGKATAN........................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................... vi
I.     PENDAHULUAN........................................................................................... 1
       1.1. Latar Belakang........................................................................................... 1
       1.2. Tujuan ....................................................................................................... 2
       1.3. Manfaat...................................................................................................... 2

II.   TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 4
       2.1. Mengenal Tanaman Manggis..................................................................... 4
       2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Manggis............................................................ 5
       2.3. Morfologi Tanaman Manggis .................................................................... 5
       2.4. Teknik Budidaya Tanaman Manggis......................................................... 6

III.  METODE  PELAKSANAAN ...................................................................... 13
       3.1. Tempat dan Waktu.................................................................................. 13
       3.2. Alat dan Bahan ....................................................................................... 13
       3.3. Metodologi ............................................................................................. 13
       3.4. Pengamatan ............................................................................................. 14

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 16
       4.1. Profil Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika........................................ 16
       4.2. Keragaman Pertumbuhan Bibit Tanaman Manggis ................................ 20
       4.3. Hubungan Antar Parameter Pertumbuhan Kultivar Bibit Manggis ........ 20
       4.4. Pengamatan Keragaman Empat Kultivar Manggis Secara Visual........... 24
       4.5. Pengamatan Panjang Akar Dan Cabang Akar Sekunder......................... 25
       4.6. Pengamatan Bobot Basah Empat Kultivar Bibit Tanaman Manggis....... 26

V.   PENTUP    ..................................................................................................... 28
       5.1. Kesimpulan ............................................................................................. 28
       5.2. Saran ....................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 29
LAMPIRAN ......................................................................................................... 31



DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                                         Halaman
Tabel. 2.1 Rekomendasi Anjuran Pemberian Pupuk Berdasarkan Umur.......
8

Tabel. 2.2 Hama dan Penyakit Pada Tanaman Manggis................................
9

Tabel. 4.1 Rata-Rata Hasil Parameter Pengamatan Bibit Tanaman Manggis
20

Tabel 4.2 Sampel Bibit Tanaman Manggis Empat Kultivar...........................
25

Tabel 4.3 Pengamatan Sampel Bobot Basah Bibit Manggis Empat Kultivar
26




DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                                                                    Halaman
Gambar 2.1. Manggis (Garcinia mangostana L.)..........................................
4

Gambar 2.2. Tanaman manggis milik balitbu tropika.....................................
5

Gambar 2.3. Mulsa alami dari jerami pada tanaman manggis........................
8

Gambar 4.1. Struktur organisasi balitbu tropika............................................
18

Gambar 4.2. Fasilitas penunjang yang ada di balitbu tropika........................
19

Gambar 4.3. Hubungan antara jumlah daun dan tinggi tanaman...................
21

Gambar 4.4. Hubungan antara panjang daun dengan tinggi tanaman...........
22

Gambar 4.5. Hubugan antara panjang daun dan tinggi tanaman...................
22

Gambar 4.6. Hubungan antara jumlah daun dan diameter batang.................
23

Gambar 4.7. Keragaman empat kultivar manggis tampak depan...................
24

Gambar 4.8. Akar tanaman manggis..............................................................
25

Gambar 4.9. Menimbang bibit tanaman manggis kultivar D.........................
27












DAFTAR SINGKATAN

DAS
Daerah Aliran Sungai


OPT
Organisme Pengganggu Tanaman


KP
Kebun Percobaan


SK
Surat Keputusan


mdpl
Meter Diatas Permukaan Laut


Permentan
Peraturan Menteri Pertanian


BALITBU
Balai Penelitian Tanaman Buah






I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manggis (Garcinia mangostana Linn.) merupakan salah satu tanaman buah asli Indonesia yang mempunyai potensi ekspor sangat besar. Tanaman ini mendapat julukan sebagai ratu buah (queen of fruit) karena keistimewaan dan kelezatannya (Anonim, 2013).
Manggis menyimpan berbagai manfaat yang luar biasa bagi kesehatan atau biasa disebut sebagai pangan fungsional (functional food). Manggis tidak hanya dikonsumsi segar, tetapi juga sebagai bahan baku berbagai industri minuman, makanan, kosmetik, dan biofarmaka, serta untuk industri tekstil. Manggis sebagai buah segar, merupakan sumber mineral dan vitamin yang sangat dibutuhkan untuk tubuh manusia dan bermanfaat untuk kesehatan. Setiap 100 gr daging buah manggis mengandung 0,6 gr protein, 0,6 gr lemak, 15,6 gr karbohidrat, 8 mg kalsium, 6 mg fosfor, 0,8 mg besi, 70 gr air dan 53 kalori. Menurut Jung et al. (2006) manggis juga mengandung komponen kimia yang bersifat sebagai anti oksidan yang kuat yakni xantone. Antioksidan tersebut memiliki manfaat sebagai anti kanker, anti bakteri, dan anti inflamasi.
Peluang pasar manggis yang besar diindikasikan oleh meningkatnya volume dan nilai ekspor manggis ke beberapa negara Asia dan Eropa. Tahun 2008 volume ekspor manggis Indonesia hanya sebesar 9.466 ton dengan nilai ekspor 5.833.000 US$ dan meningkat volume dan nilainya menjadi 20.169 ton dan 17.426.000 US$ pada tahun 2011 (Statistik Pertanian, 2013). Produksi manggis nasional pada tahun 2008 hanya 78.674 ton dan meningkat pada tahun 2013 mencapai 190.294 ton. Namun dari total produksi manggis nasional, hanya 8,31%-9,43% yang dapat diekspor. Impor manggis juga cenderung meningkat, tahun 2007 impor manggis hanya 14 ton dengan nilai 14.000 US$ dan mengalami peningkatan menjadi 20 ton dengan nilai 15.000 US$, di tahun 2011 (Statistik Pertanian, 2012). Impor manggis yang meningkat menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat domestik terhadap manggis makin besar. Peningkatan impor manggis juga mengindikasikan rendahnya daya saing manggis nasional di pasar domestik. Potensi pasar manggis yang makin meningkat merupakan peluang dan sekaligus menjadi tantangan bagi produsen manggis nasional. Potensi pasar tersebut menjadi peluang apabila diikuti oleh peningkatan produksi dan kualitas buah. Pada sisi lain akan menjadi ancaman apabila produksi manggis nasional tidak mampu bersaing di pasar domestik dan di pasar global. Tantangan ini semakin berat apabila terealisasinya pasar bebas dan membanjirnya buah impor di pasar domestik. Potensi Indonesia sebagai produsen manggis yang mampu bersaing di pasar global dan domestik pada hakikatnya cukup besar. Hal ini didukung oleh sumber daya alam yang sesuai untuk budidaya manggis di berbagai daerah nusantara. Agroklimat yang variatif di berbagai daerah memungkinkan untuk menghasilkan manggis sepanjang tahun.
Tantangan dalam pengembangan manggis hingga saat sekarang adalah ketersediaan bibit bermutu masih terbatas dalam jumah besar. Bibit bermutu, dicirikan oleh pertumbuhan yang vigor, yaitu batang kokoh, daun berkembang sempurna, perakaran kuat, dan bebas dari organisme pengganggu. Bibit yang bermutu sangat menentukan pertumbuhan, produksi dan kualitas manggis. Bibit bermutu harus berasal dari pohon induk yang terpilih, produksi dan kualitas buahnya tinggi, tahan terhadap cekaman dan bebas serta tahan terhadap hama dan penyakit (Martias, 2016).
1.2. Tujuan
a.       Mengetahui dan mempelajari secara langsung budidaya tanaman manggis di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat.
b.      Menambah wawasan tentang keragaman pertumbuhan bibit tanaman manggis yang berasal dari beberapa sentra produksi manggis di indonesia yang telah diteliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
c.       Mengetahui hubungan beberapa parameter pertumbuhan dari klon bibit manggis yang beragam.
1.3  Manfaat
a.       Memenuhi salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim, Riau.
b.      Memperoleh pengetahuan dan wawasan mengenai teknik pembudidayaan tanaman manggis di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika.
c.       Meningkatkan kemampuan dan juga keilmuan dalam hal berfikir secara komperhensif dan berbagai sudut pandang keilmuan khususnya yang berkaitan dengan budidaya tanaman manggis di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok, Sumatera Barat.



















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L.)
Gambar 2.1.  Manggis (Garcinia mangostana L.)
Sumber : Dokumentasi Balitbu Tropika (2015)
Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk tanaman pohon yang berasal dari hutan tropis di kawasan Asia Tenggara. Tinggi pohon mencapai 7 – 25 meter. Batang tanaman manggis berbentuk pohon berkayu. Kulit batangnya tidak rata dan berwarna kecoklat-coklatan (Martias, 2012). Buahnya disebut manggis, dengan kulit buah berwarna merah keunguan ketika matang, meskipun ada pula varian yang kulitnya berwarna merah (Anonim, 2013).
Tanaman manggis memiliki klasifikasi taksonomi sebagai berikut (Pantamor, 2012) :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Theales
Famili              : Clusiaceae
Genus              : Garcinia
Spesies            : Garcinia mangostana L.
Tanaman mangis mudah dijumpai di Indonesia mulai dari Sabang sampai dengan Merauke. Tanaman yang sekerabat dengan kandis ini dapat mencapai tinggi hingga 25 m, dengan diameter batang mencapai 45 cm. Tanaman ini tumbuh subur pada kondisi dengan banyak mendapat sinar matahari, kelembaban tinggi, dan musim kering yang pendek (untk menstimulasi pertumbuhan). (Mardiana et al, 2012).
2.2. Syarat Tumbuh Tanaman Manggis
Pohon manggis mampu tumbuh baik pada ketinggian 0-600  mdpl, dengan suhu udara rata-rata 20-30°C, dengan pH tanah berkisar 5-7. Lahan dengan pH asam seperti dilahan gambut, manggis tetap mampu tumbuh dengan baik. Jenis tanah yang ideal adalah Latosol dan Andosol, berdrainase baik dengan kedalaman lapisan olah tanah 20-50 cm. curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan manggis ialah berkisar 1.500-3.000 mm/tahun yang merata sepanjang tahun, dengan kelembaban 80% (Mardiana et al, 2012).
                              Gambar 2.2. Tanaman Manggis Milik Balitbu Tropika
  Sumber: Martias (2015)
2.3. Morfologi Tanaman Manggis
Pohon manggis memiliki susunan cabang yang teratur, kulit batang berwarna cokelat dan bergetah. Akar tanaman manggis merupakan akar tunggang. Adapun organ generatif tanaman manggis terdiri atas bunga, buah dan Biji. Buah manggis muncul dari ujung ranting, berpasangan dengan tangkainya yang pendek, tebal dan teratur (aktinomorf). Struktur bunga manggis memiliki empat kelopak yang tersusun atas dua pasang. Mahkota bunga terdapat empat helai, warna hijau kekuningan dengan warna merah pada pinggirnya. Benang sarinya banyak dan bakal buahnya mempunyai 4-8 ruang dengan 4-8 kuping kepala putik yang tidak pernah rontok sampai stadium buahnya matang (Mardiana et al, 2012).
Buah manggis berbentuk bulat dan berjuring, sewaktu masih muda permukaan kulit buah berwarna hijau, namun setelah matang berubah menjadi berwarna ungu kemerah-merahan, atau merah muda. Pada ujung buah terdapat juring berbentuk bintang, sekaligus menunjukkan ciri dari jumlah segmen daging buah. Jumlah juring buah ini berkisar 4-8 buah. Kulit buah manggis ukurannya tebal mencapai proporsi sepertiga bagian dari buahnya. Kulit buah banyak mengandung getah berwarna kuning, dengan cita rasa pahit. Kulit buah manggis telah banyak diteliti dan dimanfaatkan untuk berbagai bahan produk bioindustri karena mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, seperti xantone, tanin, dan antoxianin. Kandungan antioksidannya lebih besar daripada yang terkandung dalam jeruk maupun pada daging buahnya sendiri. (Anonim, 2013). Bagian yang terpenting adalah daging buahnya, warna daging buah putih bersih dan cita rasa manis dengan sedikit asam, sehingga digemari masyarakat luas. Biji manggis berbentuk bulat agak pipih dan berkeping dua (Anonim, 2013).
2.4. Teknik Budidaya Tanaman Manggis
2.4.1. Persiapan Bahan Tanam
Perbanyakan tanaman manggis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu perbanyakan generatif maupun vegetatif. Perbanyakan generatif menggunakan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif dengan cara sambung pucuk. Dalam mempersiapkan bahan tanaman, ada beberapa tahap yang harus dilakukan, yaitu persiapan media tanam, prosesing benih, penyemaian benih sebagai batang bawah, pindah tanam semaian batang bawah, pemeliharaan benih batang bawah, penyambungan, dan pemeliharaan setelah penyambungan (Bella, 2015).
2.4.2. Pengelolahan Lahan
Kebun Percobaan Aripan terletak di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Singkarak dengan jenis tanah Ultisol. Sifat tanah ini bertekstur lempung berliat, pH asam, dan kadar C-organik sangat rendah. Terdapat unsur hara makro dan mikro dengan jumlah yang bervariasi. Unsur hara makro N dan P tergolong sangat rendah, unsur K dan Ca termasuk kategori rendah, dan unsur Mg termasuk kategori sedang. Adapun unsur hara mikro Fe, Mn, Cu, dan Zn termasuk kategori sangat tinggi, sedangkan Al termasuk kategori rendah. Oleh karena itu, di lahan yang sub-optimal ini perlu adanya penambahan pupuk NPK untuk meningkatkan unsur hara makro (Martias, 2014).
2.4.3. Penanaman
Setelah melalui masa pembibitan, bibit manggis yang baik dipindah tanamkan ke lahan baru yang telah dipersiapkan. Sebaiknya pemindahan bibit dilakukan pada awal musim hujan, agar pertumbuhan awalnya baik. Bibit ditanam pada kedalaman yang sama seperti pada saat di pembibitan. Sebelum penanaman bibit manggis atau 15-20 hari sebelumnya telah dibuat lubang tanam. Lubang tanam yang digunakan adalah 50x50x50 cm untuk tanah yang subur dan 80x100x80 cm untuk tanah yang kurang subur. Kemudian, lubang tanam diisi dengan campuran kompos, pupuk kandang dan tanah di bagian atas.
Lahan dengan topografi datar posisi jarak tanam berbentuk bujur sangkar (10x10 m untuk bibit yang berasal dari perbanyakan biji dan 4x4 m untuk bibit hasil sambungan). Adapun lahan berlereng sebaiknya jarak tanam berbentuk persegi panjang (10x9) m untuk bibit yang berasal dari biji dan 4x3 m untuk bibit hasil sambungan (Bella, 2015).
2.4.4. Pemeliharaan
a.      Pengairan
Pengairan dapat dilakukan secara manual maupun otomatis. Pengairan secara manual yaitu dengan cara menyiram tanaman menggunakan selang plastik atau paralon yang telah dirancang agar dapat mengairi lahan manggis. Adapun pengairan secara otomatis, yaitu menggunakan sprinkler yang dapat diatur kebutuhan air dan waktu penyiramannya (Bella, 2015).
b.      Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan unsur hara, terutama unsur hara yang jumlahnya terbatas di dalam tanah. Unsur N, P, dan K adalah tiga unsur hara yang biasa ditambahkan pada budidaya tanaman buah sebagai pupuk kimia dasar, karena jumlahnya yang terbatas di tanah, tetapi sangat dibutuhkan oleh tanaman. Selain pupuk kimia, perlu ditambahkan pula pupuk organik, seperti pupuk kandang yang juga menjadi salah syarat budidaya tanaman manggis. Pupuk organik berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah, melepaskan senyawa organik yang bermanfaat dalam meningkatkan kelarutan hara, dan merangsang aktivitas mikrobiologi tanah. Pada umumnya, kebutuhan pupuk tanaman manggis tergantung pada umur tanaman (Tabel. 2.1).


Tabel. 2.1 Rekomendasi Anjuran Pemupukan Manggis Berdasarkan Umur Tanaman
Umur tanaman
                    Pupuk anorganik (gram/pohon)
Pupuk kandang
Urea
TSP
KCl
(kg)
Sebelum tanam
200
200
200
20
1 – 2 tahun
50
25
25
20
> 2 – 4 tahun
100
50
50
20
> 4 – 6 tahun
200
100
100
40
> 6 – 8 tahun
400
800
800
40
> 8 – 10 tahun
800
1500
1500
80
> 10 tahun
1000
2500
1500
80
Sumber: Martias (2014)
c.       Pemberian Mulsa Alami
Mulsa alami ini berfungsi untuk mengurangi penguapan air dan unsur hara di dalam tanah, menjaga suhu tanah, sebagai penyumbang bahan organik dan hara, serta dapat menghambat pertumbuhan gulma yang dapat merugikan tanaman manggis. Selain itu, mulsa alami juga berperan dalam merangsang aktivitas mikrobiologi tanah, sehingga dapat memperbaiki struktur tanah dan aerasi tanah (Bella, 2015).
Gambar  2.3.  Mulsa alami dari jerami pada tanaman manggis. Sumber: Martias (2015)
Teknis penggunaan mulsa alami pada tanaman manggis adalah menyusun jerami padi secara merata dan rapat di atas permukaan sekitar zona perakaran. Selain dengan menggunakan mulsa alami, dapat pula menggunakan tanaman sela, terutama tanaman berumur pendek, seperti melon, nanas, pepaya, dan jenis tanaman buah lainnya. Hal ini selain dapat menguntungkan bagi tanaman manggis, juga dapat memberikan hasil buahnya sebelum tanaman manggis menghasilkan (Bella, 2015).
d.      Pengendalian OPT/Penyiangan
Organisme pengganggu tanaman (OPT) pada manggis dapat berupa gulma, hama, maupun penyakit. Ketiganya sangat merugikan pertumbuhan dan perkembangan tanaman manggis. Gulma yang tumbuh di sekitar perakaran manggis dapat menyebabkan terjadi persaingan atau kompetisi dalam memperebutkan unsur hara di dalam tanah. Selain itu, gulma juga dapat menjadi tempat berkembangnya hama dan penyakit yang dapat merusak tanaman manggis. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara mekanis, yaitu memotong gulma yang tumbuh di antara tanaman manggis dan mencabut sampai ke akarnya gulma yang tumbuh di sekitar perakaran tanaman manggis. (Bella, 2015).
Adapun menurut Direktoral Perlindungan Hortikultura (2003) hama dan penyakit yang sering dijumpai pada tanaman manggis dan cara pengendalian adalah sebagai berikut (Tabel 2.2)
Tabel 2.2 Hama dan Penyakit pada Tanaman Manggis
Jenis OPT
Gejala
Metode Pengendalian
A. Hama
Ulat pemakan daun (Hyposidra talaca Walker)
Memakan terutama daun muda dan meninggalkan tulang-tulang daun saja.
Sanitasi kebun, cara mekanis, dan penyemprotan dengan insektisida sistemik yang terdaftar dan diizinkan.
Penghisap daun dan buah (Helopeltis antonii)
Menghisap cairan daun, tunas muda, bunga, dan pentil buah, sehingga dapat menurunkan produksi.
Mengurani naungan, pemangkasan, penggunaan musuh alami (Mantis sp, laba-laba, dan kepik famili Reduviidae), dan penyemprotan dengan insektisida yang terdaftar.
Kutu putih (Pseudococcus spp)
Menghisap cairan kelopak bunga, tunas, dan daun muda. Kutu dewasa mengeluarkan tepung putih yang menyelimuti tubuhnya dan mengeluarkan cairan gula yang didatangi semut hitam sehingga menimbulkan jelaga hitam.
Pemangkasan, pemberian kapur anti semut, dan penyemprotan dengan insektisida dan fungisida yang efektif bila ada jelaga hitam.
Thrips (Scirtothrips sp.)
Menyerang sejak fase kuncup dan menurunkan kualitas buah dengan adanya spot-spot putih yang berpencar pada buah
Pemangkasan dan penyemprotan dengan insektisida yang terdaftar
Tungau (Tetranychus spp)
Menyerang, kuncup bunga, bunga, tangkai daun, daun dan buah. Terjadi perubahan warna seperti perunggu pada bagian yang terserang. Serangan pada permukaan atas daun terdapat bercak kekuningan dan pada bagian bawah merusak jaringan mesofil sehingga transpirasi tanaman meningkat. Kulit buah dirusak dirusak dengan cara menghisap cairan sel kulit buah hingga kering dan berwarna kusam
Penggunaan musuh alami dan insektisida terdaftar
Tupai (Callosciurus notatus Boddaert)
Menyerang buah yang hampir masak
Sanitasi kebun, penggunaan perangkap
B. Penyakit
Rapuh coklat
Helaian daun terdapat bercak coklat, pinggir daun coklat, dan bagian yang coklat akan rapuh bila diremas. Serangan terutama pada bagian tanaman yang terlalu teduh
Sanitasi kebun, pengurangan kelembaban dengan pemangkasan membuang daun sakit dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar
Bercak daun coklat (Helminthosporium sp), hitam (Gloeosporium garcinae), dan kelabu (Pestalotiopsis sp)
Bercak tidak beraturan dengan warna yang berbeda-beda tergantung jenis patogennya.
Sanitasi kebun, pengurangan kelembaban dengan pemangkasan membuang daun sakit dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar
Jamur Upas (Corticium salmonicolor)
Perkembangan cendawan terdiri dari beberapa stadium. Konidium dipencarkan oleh percikan air atau serangga
Pengurangan kelembaban,  mengolesi  cabang yang sakit dengan bubur Bordeaux, atau penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif tridemorf
Hawar benang (Marasmieus scandenas)
Permukaan cabang atau ranting terdapat benang-benang putih yang dapat meluas keseluruh kepermukaan daun sehingga daun menjadi mati
Sanitasi kebun, pemangkasan dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar
Hawar rambut kuda (Marasmius equicrinis Mull)
Benang-benang coklat tua kehitaman menutupi bagian terserang dan bagian tersebut akan mati.
Sanitasi kebun, pemangkasan dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar.
Mati ujung /Die back (Diplodia sp)
Infeksi melalui luka pada daun atau ranting
Sanitasi kebun, pemangkasan dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar
Kanker batang/cabang (Botryosphaeria ribis)
Warna kulit batang atau cabang berubah dan mengeluarkan getah yang menggumpal di bawah kulit batang. Kulit batang menjadi kering dan menjalar ke xylem. Daun menjadi pucat dan lemas
Membersihkan batang/cabang yang sakit,  pemangkasan dan penyemprotan dengan fungisida terdaftar
Busuk akar coklat (Fomes noxius Corner) dan merah (Ganoderma pseudoferreum)
Menular melalui spora yang diterbangkan angin dan menginfekssi melalui luka pada pangkal batang
Sanitasi, perbaikan aerasi dan draenase di sekitar perakaran manggis
Busuk buah (Diplodia mangostanae, Colletotrichum gloeosporiodes, Glomerella cingulata)
Kulit buah yang kehitaman dan mengkilat berubah menjadi suram, buah menjadi keras, dan daging buah berairdan lekat dengan kulit. Juga terjadi pada buah di penyimpanan.
Kultur teknis, panen dan pasca panen yang baik.
Buah mengeras (Rhizopus sp, Botryoplodia sp, dan Pestalosia flogisetulla)
Infeksi terjadi melalui luka pada penyimpanan
Kultur teknis, panen dan pasca panen yang baik, penyemprotan dengan fungisida terdaftar tiga minggu sebelum panen.




e.       Pengendalian getah kuning (gamboges disorder)
Penyebab munculnya getah kuning pada buah manggis adalah pecahnya saluran dinding sel getah kuning yang terkait dengan kekurangan Ca, dinamika turgor, fluktuasi kadar air tanah, perubahan musim kering ke musim hujan, DNA  perkembangan buah. Selain itu, menurut Martias et al. (2012), cemaran getah kuning pada daging buah juga diinduksi oleh toksisitas Mn. Oleh karena itu, cemaran getah kuning pada kulit dan daging buah harus dikendalikan agar buah manggis berkualitas tinggi. Dengan pemberian Ca dalam bentuk dolomit melalui tanah dapat menurunkan cemaran getah kuning pada kulit buah (Dorly, 2009) dan penyemprotan CaCl2 ke buah juga dapat menurunkan cemaran getah kuning dalam daging buah (Dorly et al., 2011).
f.        Pemangkasan
Pemangkasan tanaman manggis bertujuan untuk membuang cabang atau ranting yang tidak produktif, terserang hama penyakit, telah mati, dan tunas air yang tumbuh di cabang atau batang manggis bagian dalam. Disamping itu pemangkasan juga berorientasi meningkatkan penentrasi cahaya ke dalam tajuk dengan membuang ranting atau cabang yang terlalu rapat dan mengurangi kelembaban yang terlalu tinggi di dalam tajuk (Martias, 2012)
Pemangksan akan meningkatkan tangkapan CO2 oleh daun di bagian dalam  sehingga sangat mendukung untuk peningkatan fotosintesis dan mengeliminasi berkembangnya hama dan penyakit di dalam tajuk tanaman. Cabang yang menyentuh tanah juga harus dibuang supaya cabang tersebut tidak terkontaminasi dengan penyakit dari percikan air hujan yang menetes ke tanah. Pemangkasan sebaiknya dilakukan setelah panen untuk tanaman yang telah berproduksi, yaitu di awal musim kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan berpengaruh nyata terhadap jumlah buah jadi, persentase bunga/ buah rontok, persentase buah jadi, bobot buah per tanaman dan bobot buah per butir (Anonim, 2000).




III. METODE PELAKSANAAN
3.1.Tempat dan Waktu
Praktek kerja lapangan dan magang di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat dilaksanakan selama 29 hari kerja, terhitung mulai pada tanggal 1 Februari sampai dengan tanggal 29 Februari 2016.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu Jangka sorong digital, mistar, benang jagung, kertas label, gunting, stapler, spidol hitam, kamera digital.
 bahan yang digunakan yaitu Bibit empat kultivar tanaman manggis yang berasal dari sentra produksi yang berbeda berumur 10 bulan, yang ditempatkan dibawah paranet pada intensitas cahaya 75%. Bibit manggis ini dipelihara secara optimal, meliputi pemupukan dan penyiraman. Bibit manggis yang diamati terdiri dari empat kultivar lokal yaitu kultivar Barengkok, Kecamatan Leuwiliang Bogor, Jawa Barat, kultivar Cengal, Kecamatan Leuwiliang, Bogor Jawa Barat, kultivar Belimbing, Kecamatan Pupuan, Tabanan Bali, dan kultivar Angkah, Kecamatan Selemadek, Bali.
3.3. Metodologi
Pelaksanaan kegiatan kerja lapangan ini menggunakan metode sebagai berikut:
3.3.1.      Metode Langsung
-          Wawancara atau interview, yaitu metode pengumpulan data dan informasi dengan mengajukan pertanyaan kepada pembimbing lapangan dan juga peneliti lainnya ataupun pihak yang terkait dengan kegiatan kerja lapangan baik yang mengenai tanaman manggis ataupun tanaman lainnya.
-          Observasi atau pengamatan, yaitu metode pengumpulan data secara langsung di lapangan, yang dilakukan di KP Sumani Solok, dan mengolah hasil observasi tesebut.
-          Praktek langsung pada beberapa kegiatan budidaya tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat.
-          Dokumentasi dalam bentuk foto untuk melengkapi laporan kerja lapangan.
3.3.2.      Metode Tidak Langsung
-          Studi pustaka, yaitu pengumpulan data dengan cara membaca dan menelaah pustaka mengenai budidaya tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat.
-          Melakukan kajian pustaka dan pengumpulan data sekunder yang diperoleh di lapangan dan pengolahan data secara mandiri.
3.4.      Pengamatan
Dengan parameter yang diamati sebagai berikut:
1.      Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur pada ketinggian 3 cm dari permukaan tanah sampai ujung titik tumbuh dalam satuan cm dengan menggunakan mistar.
2.      Diameter Batang
Diameter batang diukur 3 cm dari permukaan tanah, dengan menggunakan jangka sorong dalam satuan mm.
3.      Jumlah Daun
Diukur dari daun pertama, sampai daun terakhir yang telah berkembang penuh
4.      Panjang Daun
Diukur dari pangkal daun sampai ujung daun, untuk daun yang terpanjang, dengan menggunakan mistar dan satuannya cm.
5.      Lebar  Daun
Diukur dari daun yang telah berkembang penuh dan terlebar, dengan menggunakan mistar dan satuannya cm.
6.      Panjang Akar Bibit Tanaman Manggis
Diukur dari pangkal akar sampai ujung akar terpanjang.
7.      Berat Basah Tanaman Manggis
Tanaman yang telah dibongkar di cuci akarnya agar bebas dari tanah.

8.      Jumlah Cabng Akar Sekunder
Tanaman yang telah dibongkar dari polybag dilakukan penghitungan jumlah cabang akar sekundernya secara manual.





























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
4.1.1.      Sejarah Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu Tropika) adalah satu-satunya institut penelitian buah tropika pemerintah di bawah Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengenbangan Hortikultura, sehingga mandat kegiatan penelitiannya bersifat nasional. Sejak dibentuk pada tahun 1984, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan. Secara ringkas, perubahan organisasi dan kelembagaan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika adalah sebagai berikut:
a.      Periode 1984-1994
SK Mentan No. 613/Kpts/OT.210/8/84 tanggal 16 Agustus 1984 tentang organisasi dan tata kerja Balai-balai lingkup Badan Litbang Pertanian menetapkan Balai Penelitan Hortikultura Solok dengan 4 Sub Balai yaitu Malang, Tlekung, Pasarminggu dan Jeneponto dengan tugas pokok melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman buah-buahan.
b.      Periode 1994-2006
Berdasarkan SK Mentan No. 796/Kpts/OT.210/12/94 tanggal 13 Desember 1994 Balai Penelitian Tanaman Hortikultura mengalami perubahan nama menjadi Balai Penelitian Tanaman Buah dengan TUPOKSI melakukan kegiatan penelitian tanaman buah-buahan atas bidang pemuliaan, fisiologi, agronomi, teknologi budidaya, proteksi, agroekologi, agroekonomi, pasca panen dan mekanisasi untuk pengembangan produksi, analisis residu pupuk dan pestisida serta eksplorasi, evaluasi dan pelestarian plasmanutah buah-buahan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus penghasil devisa.
c.       Periode 2006-sekarang
Sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, tahun 2006 Balai Penelitian Tanaman Buah mengalami penataan organisasi dengan perubahan nomenklatur menjadi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 10/Permentan/ OT.140/3/2006 tanggal 1 Maret 2006.
1)      Pelaksanaan penelitian genetika, pemuliaan dan perbenihan tanaman buah tropika.
2)      Pelaksanaan penelitian eksplorasi, konservasi, karakterisasi dan pemanfaatan plasmanutfah tanaman buah tropika.
3)      Pelaksanaan penelitian agronomi, morfologi, fisiologi, ekologi, entomologi dan fitopatologi tanaman buah tropika.
4)      Pelaksanaan penelitian komponen teknologi sistem dan usaha agribisnis tanaman buah tropika.
5)      Pemberian pelayanan teknik kegiatan penelitian tanaman buah tropika.
6)      Penyiapan kerjasama informasi, dokumentasi, serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil penelitian tanaman buah tropika, pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga balai.
Selama periode 30 tahun Balai ini berdiri, terjadi 7 kali pergantian kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:
1.      Dr. M. Winarno                 (1984 - 1993)
2.      Dr. L. Setiobudi                (1993 - 1999)
3.      Dr. I. Djatnika                   (1999 - 2005)
4.      Ir. Nurhadi, M.Sc              (2005 - 2009)
5.      Dr. Achmadi Jumberi        (2009 - 2010)
6.      Dr. Catur Hermanto          (2011 - 2013)
7.      Dr. Ir. Mizu Istianto          (2013 - Sekarang)

4.1.2.      Visi, Misi, Motto, dan Janji Layanan
a.      Visi
Menjadi lembaga penelitian dan pengembangan pertanian berkelas dunia yang menghasilkan dan mengembangkan inovasi teknologi pertanian untuk mewujudkan pertanian industrial unggul berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.
b.      Misi
Menghasilkan, mengembangkan dan mendeseminasikan inovasi teknologi, sistem dan model serta rekomendasi kebijakan di bidang penelitian tanaman buah tropika yang berwawasan lingkungan dan berbasis sumberdaya lokal guna mendukung terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan.
Meningkatkan kualitas sumberdaya penelitian dan pengembangan pertanian serta efisiensi dan efektifitas pemanfaatannya.
Mengembangkan jejaring kerjasama nasional dan internasional (networking) dalam rangka penguasaan IPTEK (scientific recognation) atas peningkatan peran Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika sebagai lembaga penelitian tanaman buah.
c.       Motto
“Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Layanan PRIMA” (Partnership,  Ramah, Independen, Mudah, dan Akurat).
d.      Janji Layanan
“Kepuasan pelanggan adalah target utama kami”
4.1.3.      Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika
 Gambar 4.1. Struktur organisasi Balitbu Tropika.
 Sumber: Pribadi (2016)
Balitbu Tropika didukung oleh sumber daya manusia lainnya yang terdiri dari 151 orang dengan ragam tingkat pendidikan mulai dari SD hingga S3. Jumlah masing-masing tingkat pendidikan tersebut, yaitu SD 4 orang, SLTP 6 orang, SLTA 66 orang, DIPLOMA 9 orang, S1 54 orang, S2 24 orang, dan S3 4 orang.
4.1.4.      Fasilitas
Balitbu Tropika dilengkapi oleh berbagai fasilitas, yang meliputi gedung kantor, laboratorium, kebun percobaan, rumah kaca, rumah dinas, guest house/rumah tamu, ruang pertemuan (auditorium), dan lain-lain. Sebagai penunjang kegiatan penelitian, Balitbu Tropika didukung oleh 5 laboratorium, yaitu Laboratorium Pemuliaan dan Kultur Jaringan, Laboratorium Kimia dan Pasca Panen, Laboratorium Proteksi Tanaman, Laboratorium Uji Mutu Benih, dan Laboratorium Produksi Massal. Selain laboratorium, kebun percobaan (KP) merupakan sarana yang sangat penting dalam mendukung kegiatan penelitian.
(a)                                            (b)                                             (c)
                          (d)                                             (e)                                              (f)
Gambar 4.2. Beberapa fasiltas penunjang yang ada di Balitbu Tropika: (a) Laboratorium Analisis Kimia, (b) Laboratorium Kultur Jaringan, (c) Ruang Audiotarium, (d) Kebun Percobaan Sumani, (e) Perpustakaan, (f) Guest House dan Asrama
Sumber: Pribadi (2016) dan Balitbu Tropika (2015)

Secara administratif ( sesuai SK Permentan No. 32 / Permentan / OT.140 / 3 / 2013) , Balitbu Tropika mengelola 6 KP, yaitu KP. Aripan dan KP. Sumani (Solok, Sumatera Barat), KP. Wera (Subang, Jawa Barat), KP. Cukurgondang, KP. Kraton, dan KP. Pandean (Pasuruan, Jawa Timur).





4.2.      Hasil dan Pembahasan Keragaman Pertumbuhan Bibit Tanaman Manggis.
Pengamatan karakter pertumbuhan empat kultivar manggis menunjukkan  adanya perbedaan rata-rata jumlah daun, diameter batang, tinggi tanaman, panjang daun dan lebar daun, antar kultivar bibit manggis. Rata-rata jumlah daun yang paling banyak  mencapai 12,8 helai yaitu diperoleh dari kultivar C yang diikuti oleh B, sedangkan yang terkecil yaitu 9,6 lembar yang berasal dari kultivar D. Diameter batang dari empat kultivar manggis tersebut berkisar dari 2,51 mm sampai 3,85 mm dan diameter yang terbesar juga ditemukan dari kultivar C. Rata-rata panjang daun juga memperlihatkan perbedaan antar kultivar bibit manggis. Panjang daun terpanjang mencapai 18,27 cm yang diperoleh dari kultivar C dan yang terendah ditemukan pada kultivar D. Rata-rata tinggi tanaman juga memperlihatkan pola yang sama dengan parameter sebelumnya yaitu, tinggi tanaman yang tertinggi diperoleh dari kultivar C yang mencapai 16,8 cm. Tinggi tanaman yang terendah hanya 8,22 cm yang diperoleh dari kultivar D. Lebar daun juga menunjukkan variasi antar varietas meskipun tidak terlalu besar, daun yang terlebar ditemukan pada kultivar C yaitu mencapai 6,27 cm dan yang terendah hanya mencapai 3,59 cm yaitu pada kultivar D.
Tabel.4.1 Rata-Rata Hasil Parameter Pengamatan Bibit Tanaman Manggis

Perlakuan
Parameter
Jumlah
Daun (helai)
Diameter Batang (mm)
Panjang
Daun (cm)
Tinggi Tanaman (cm)
Lebar
Daun (cm)
A
10.9
3.24
12.7
11.8
4.55
B
11.5
3.3
14.63
13.95
5.63
C
12.8
3.85
18.27
16.8
6.27
D
9.6
2.51
9.46
8.22
3.59

4.3. Hubungan Parameter Pertumbuhan Kultivar Bibit Manggis.
4.3.1 Hubungan Jumlah daun dan Tinggi tanaman.
Hasil analsis regresi, menunjukkan adanya hubungan yang linier antara jumlah daun dengan tinggi tanaman dengan R2 = 0.276 (y = 0.783x + 0.7). Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah daun yang bertambah akan meningkatkan tinggi tanaman seperti yang terlihat pada (Gambar 4.3). Bibit manggis kultivar Angkah yang jumlah daunnya hanya 9,6 lembar mempunyai tinggi tanaman hanya 8,22 cm. Sedangkan bibit manggis kultivar belimbing jumlah daunnya hanya 12,8 lembar, mempunyai tinggi tanaman yang tertinggi yaitu 16,8 cm. begitu pula halnya dengan bibit kultivar lainnya makin meningkat jumlah daun, makin tinggi pula tinggi bibitnya. Hubungan antara jumlah daun dan tinggi tanaman ini menunjukkan bahwa jumlah daun berpengaruh terdapat tinggi tanaman.

Gambar 4.3. Hubungan Jumlah Daun dan tinggi tanaman
4.3.2.      Hubungan antara Panjang daun dan Tinggi tanaman.
Analisis regresi antara panjang daun dan tinggi tanaman menunjukkan terdapat hubungan yang linier dengan persamaannya adalah y = 0.473x + 5.815R² = 0.450 . Persamaan ini menunjukkan bahwa makin panjang daun bibit manggis dan makin tinggi pula tinggi tanamannya, seperti yang terlihat pada (Gambar 4.3). Panjang yang terpendek yaitu pada kultivar angkah (D) hanya 9,46 cm dan tingginya hanya 8,22 cm, sedangkan pada kultivar belimbing (C) panjang daunnya mencapai 18,27 cm dan tinggi bibitnya adalah yang tertinggi mencapai 16,84 cm. Dari hubungan kedua parameter ini dapat dipahami bahwa panjang daun juga akan meningkatkan tinggi bibit manggis dari varietas yang berbeda.

Gambar 4.4. Hubungan antara Panjang Daun dan Tinggi Tanaman
4.3.3.      Hubungan antara Lebar daun dan Tinggi tanaman.
Gambar 4.5. Hubungan antara Lebar Daun dan Tinggi Tanaman

Lebar daun  juga akan  mempengaruhi luas dari permukaan daun, yaitu makin lebar daun maka akan meningkat luas permukaan daunnya. Luas permukaan daun juga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hasil analisis regresi juga menunjukkan hubungan yang linier antara lebar daun dengan tinggi tanaman seperti yang ditunjukkan dengan y = 1.419x + 5.371 R² = 0.509  seperti terlihat pada (Gambar 4.5) Lebar daun yang sempit yang ditemukan pada kultivar Angkah (D), yaitu hanya 3,59 cm dan bibit tanaman manggis akan lebih tinggi apabila lebar daunnya lebih lebar seperti yang tunjukkan pada kultivar Belimbing (C) yaitu mencapai 6,27 cm. Lebar daun sama halnya dengan panjang daun dan jumlah daun, nampaknya berperan dalam meningkatkan tinggi tanaman manggis. Daun yang memiliki permukaan yang lebar, akan membuat daun kaya akan klorofil, dan membuat pertumbuhan tanaman tersebut akan menjadi sangat optimal, seperti yang dinyatakan pada hasil analisis regresi pada (Gambar 4.5) tersebut, yang menunjukkan bahwa semakin lebar ukuran daun pada suatu tanaman akan mengakibatkan tinggi dari tanaman tersebut menjadi bertambah karena proses metabolisme yang terjadi pada tanaman tersebut menjadi sangat baik. Tanaman yang kaya akan klorofil ini akan aktif berfotosintesis, sehingga kebutuhan energi dan nutrisi untuk pertumbuhannya akan terpenuhi (Anonim, 2013).
4.3.4.      Hubungan antara Jumlah daun dan Diameter batang.
Diameter batang adalah salah satu komponen dari parameter pertumbuhan bibit tanaman manggis, sama halnya dengan tinggi tanaman, parameter diameter batang juga dipengaruhi oleh jumlah daun. Jumlah daun yang meningkat juga akan meningkatkan diameter bibit manggis hal ini terlihat dari hubungan regresi antara diameter batang dengan jumlah daun, diameter batang yang terendah hanya 2,51 mm yang diperoleh dari kultivar angkah (D) dengan jumlah daunnya hanya 9,6 lembar. Diameternya akan bertambah mencapai 3,85 mm pada kultivar belimbing (C) yaitu jumlah daunnya mencapai 12,8 helai dengan demikian terlihat jumlah daun juga berpengaruh terhadap diameter batang, yang dinyatakan dengan y = 0.111x + 2.026, R² = 0.478 .

Gambar 4.6. Hubungan Antara Jumlah Daun dan Diameter Batang
4.4.      Pengamatan Keragaman Empat Kultivar Manggis Secara Visual.
Hasil pengamatan visual juga menunjukkan bahwa bibit empat kultivar manggis memiliki keragaman pertumbuhan, yang berasal dari lokasi yang berbeda. Tampak pada kultivar belimbing (C) memiliki pertumbuhan yang jauh lebih baik dibandingkan kultivar bibit tanaman manggis lainnya, seperti yang dapat dilihat pada (Gambar 4.7). Secara fisik kultivar C memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan bibit tanaman manggis yang berasal dari tiga kultivar lainnya.
 
              Gambar 4.7. Keragaman Empat Kultivar Manggistampak dari depan
              Sumber : Dokumentasi Pribadi (2016)
Kultivar Cengal, Bogor (B) juga memiliki pertumbuhan yang sangat baik seperti halnya yang berasal dari kultivar Belimbing, Bali (C), terlihat dari penampilan fisiknya pada (Gambar 4.7). Kedua kultivar ini memiliki jumlah daun, diameter batang, panjang daun, lebar daun dan tinggi yang lebih baik dibanding kultivar lainnya, seperti yang ditunjukkan pada (Gambar 4.4) dan (Gambar 4.5) dan juga (Tabel. 4.1). Berbeda dengan kultivar yang berasal dari Barengkok, Bogor (A) dan Angkah, Bali (D) yang memili tampilan fisik yang cukup berbeda dengan Kultivar C dan B. diantara kultivar A dan D tersebut tampak pada (Gambar 4.3) dan (Gambar 4.6), bahwa kultivar D memiliki pertumbuhan yang cenderung lebih buruk diantara kultivar lainnya seperti yang ditunjukkan pada (Gambar 4.6) dan (Tabel. 4.3). Tanaman D memiliki rata-rata pertumbuhan yang paling rendah dari tanaman lainnya, terlihat bahwa bibit kultivar D memiliki rata-rata jumlah daun yang lebih sedikit dari pada kultivar lain yaitu 9,6 helai pertanaman, sementara rata-rata jumlah helaian daun terbaik adalah 12,8 helai pertanaman yang dimiki oleh kultivar C.
4.5.      Pengamatan Panjang Akar dan Jumlah Cabang Akar Skunder Empat Kultivar Manggis.
Hasil pengamatan pertumbuhan empat kultivar manggis menunjukkan  adanya perbedaan pada jumlah cabang akar sekunder dan juga panjang akar pada bibit tanaman manggis berumur 10 bulan tersebut. Sampel tanaman dengan jumlah cabang akar sekunder terbanyak dan memiliki akar terpanjang adalah tanaman kultivar Belimbing (C) dengan jumlah cabang akar sekunder mencapai 11 cabang dan  panjang akarnya mencapai 21 cm. Kemudian diikuti oleh kultivar B dan A, jumlah cabang akar sekunder kultivar B adalah 10 cabang, begitu pula dengan kultivar A yang juga memiliki 10 cabang akar sekunder. Namun perbedaan muncul pada ukuran panjang akar, kultivar B memiliki panjang akar mencapai 19 cm sedangkan panjang akar kultivar A mencapai 18 cm. Hasil pengamatan tersebut, didapatkan hasil terendah pada sampel kultivar Angkah (D) dengan hanya memiliki 8 cabang akar sekunder, dan panjang akarnya yang hanya mencapai 16 cm. seperti yang terlihat pada (Tabel 4.2)
Tabel. 4.2. Sampel bibit tanaman manggis empat kultivar
Sampel
Kultivar
A
B
C
D
Jumlah Akar (Cabang)
10
10
11
8
Panjang Akar
(cm)
19
18
21
16
Hali ini menunjukkan bahwa kultivar C memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kultivar lainnya, dan juga ditunjukkan pada (Gambar 4.8).
                            (a)                                                             (b)
Gambar  4.8.  Akar tanaman manggis: (a) kondisi  sesaat setelah pembongkaran polybag, (b) setelah akar dicuci.
Sumber: Pribadi (2016)
Tampak Jelas pada (Gambar 4.8), setelah akar bibit manggis kultivar C tersebut dicuci bersih, terlihat perbedaan yang signifikan secara visual dibandingkan dengan bibit manggis kultivar lainnya, dengan memiliki alur perakaran primer yang jelas dan akar sekunder yang bercabang disekitar akar primer tersebut, hal ini juga berkaitan dengan kemampuannya untuk menyerap hara dan air dalam tanah secara optimal, terlihat secara visual bahwa kultivar C memiliki pertumbuhan yang normal dengan vigoritas yang baik, dan memenuhi syarat untuk dijadikan bibit yang baik. Sedangkan pada kultivar Angkah (D) menunjukkan visualisasi yang kontras jika dibandingkan dengan bibit manggis kultivar lainnya, terlihat dari akar primernya yang pendek, dengan percabangan akar sekundernya yang sedikit, sehingga hal ini menyebabkan  penyerapan hara dan air didalam tanah tidak berlangsung secara optimal, yang berakibat pada ketidak normalan pertumbuhannya dan vigoritasnya yang rendah.
4.6.      Pengamatan Bobot Basah Empat Kultivar Bibit Tanaman Manggis.
Bobot basah tanaman merupakan salah satu parameter pertumbuhan bibit tanaman manggis yang tidak dapat dipisahkan dengan seluruh parameter pertumbuhan lainnya, hal ini karena bobot basah terkait erat dengan parameter lain terutama seperti jumlah daun, lebar daun, panjang daun, panjang akar dan juga jumlah cabang akar, seperti yang terlihat pada (Tabel. 4.3)
Tabel. 4.3. Pengamatan sampel bobot basah bibit tanaman manggis empat kultivar
Sampel
Tanaman
A
B
C
D
Bobot Basah
(gram)
11
16
23
5,4
Data yang dapat diamati pada Tabel.4.3 tersebut menunjukkan bahwa sampel kultivar C memiliki bobot terbaik yaitu mencapai 23 gram, kemudian diikuti dengan kultivar B yang memiliki bobot basah 16 gram, sementara kultivar A yang memiliki bobot basah 11 gram, dan bobot basah bibit tanaman manggis terendah adalah bibit tanaman manggis kultivar D yang hanya memiliki bobot basah seberat 5,4 gram saja. Hal ini menunjukkan bahwa bibit tanaman mangis yang memiliki jumlah daun yang lebih banyak, lebar daun yang luas, memiliki daun yang panjang, dan juga Perakaran yang panjang dan banyak akan lebih memiliki bobot basah yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak. Seperti yang telah ditunjukkan oleh bibit tanaman manggis kultivar Belimbing (C), yang memiliki rata-rata jumlah daunnya 12,8 lembar, rata-rata panjang daun 18,27 cm, rata-rata lebar daun 6,27 cm, panjang akar mencapai 21 cm dengan jumlah percabangan akar sekundernya yang berjumlah 11 cabang, rata-rata dan hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tanaman C sangat optimal dalam melakukan reaksi fotosintesis karena seperti yang telah diketahui, dengan semakin banyaknya jumlah daun, semakin panjang dan lebar ukuran daun, maka semakin baik pulalah reaksi fotosintesis yang terjadi pada tanaman tersebut (Anonim, 2013). Penyerapan hara dan air yang sangat baik, nantinya akan menambah bobot basah dari bibit tanaman manggis tersebut.  Sebaliknya manggis kultivar Angkah (D) merupakan bibit tanaman yang memiliki bobot basah yang hanya mencapai 5,4 gram. Rata-rata jumlah daun yaitu 9,6 helai, panjang daun 9,46 cm, juga lebar daun 3,59, panjang akar 16 cm dan jumlah percabangan akarnya yang hanya mencapai 8 cabang saja ini menunjukkan bahwa kurang optimalnya proses fotosintesis dan penyerapan hara dan air yang terjadi tidak didukung dengan jumlah daun, lebar daun dan panjang daun yang dimiliki sehingga tidak terjadinya proses fotosintesis yang optimal, begitu pula halnya dengan penyerapan hara, air dan mineral lain dalam tanah menjadi tidak maksimal karena tidak didukung dengan adanya akar dan perakarannya yang baik, seperti yang tampak pada (Gambar 4.9).
                    Gambar 4.9. Menimbang Bibit Tanaman Manggis Kultivar D
                    Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016)



V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.  Kesimpulan
Bibit kultivar belimbing (C) yang berasal dari Kecamatan Pupuan, Tabanan Bali merupakan kultivar yang memiliki pertumbuhan terbaik diantara bibit tanaman manggis yang berasal dari kultivar lainnya dengn memiliki bobot basah 23 gram, panjang akar 21 cm, jumlah akar skundernya 11 cabang, dengan rata-rata jumlah daunnya 12,8 lembar, diameter batang 3.85 mm, panjang daun 18,27 cm, tinggi tanaman 16,8 cm dan juga lebar daun 6,27 cm. Sedangkan pertumbuhan terendah dimiliki oleh kultivar angkah, Kec.Selemadek, Bali dengan bobot basah 5,4 gram, panjang akar 16 cm, juga jumlah akar sekundernya yang hanya 8 cabang, juga memiliki rata-rata jumlah daun yaitu 9,6 helai, diameter 2,51 mm, panjang daun 9,46 cm, tinggi tanaman 8,22 cm, dan juga lebar daun 3,59.
Dari pengamatan visual empat kultivar bibit manggis sudah terlihat bahwa, bibit manggis kultivar Belimbing (C) menunjukkan vigoritas yang lebih tinggi, yang ditunjukkan oleh warna daun yang berwarna hijau, pertumbuhannya normal, dan tinggi tanaman yang lebih baik dari pada bibit yang berasal dari kultivar lain.
5.2.      Saran
Sebaiknya dilakukan penelitian mendalam terhadap bibit tanaman manggis Kultivar angkah yang berasal dari Selemadek, Bali yang memiliki kualitas pertumbuhan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kultivar bibit tanaman manggis yang berasal dari daerah lainnya, agar diketahui faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi rendahnya pertumbuhan kultivar manggis tersebut.
Sebaiknya dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap kultivar bibit tanaman manggis yang berasal dari daerah lain yang lebih ungul, agar hasil yang diperoleh optimal dan mampu bersaing dengan manggis dari negara lain baik di pasar domestik maupun internasional.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2013. variasi maltodekstrin terhadap kualitas (sifat fisik kimia, mikrobiologis dan organoleptik) minuman serbuk instan kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn.).

Anonim. 2013. Fotosintesis < http://wikipedia-fotosintesis-daun-tanaman.html >. Diakses pada maret 2016

Vyatrisa, Bella. 2015. Budidaya Manggis (Garcinia mangostana L.) Di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat. UGM. Jogjakarta.

Martias. 2016. Teknologi Budidaya Untuk Mendukung Pengembangan Sentra Produksi Manggis Di Sumatera Barat. Balitbu Tropika. Solok.

Martias.  2014. Budidaya Manggis (Garcinia mangostana L.). Balitbu Tropika. Solok.

A’ida, N. dan Marwan. 2012. Informasi Singkat Benih Gracinia mangostana L. BPTH Sulawesi, Makassar.

Istianto, Mizu, dkk. 2015. Profil Komoditas Buah Nusantara. IAARD Press. Jakarta.

Direktorat Jendral Perbenihan Hortikultura. 2013 Pedoman Teknis Sertifikasi Benih Tanaman Hortikultura. Kementerian Pertanian. Jakatra.

Anonim. 2000. Pengembangan Teknologi Spesifik Lokasi untuk Peningkatan Produksivitas dan Kualitas Buah Manggis. Kerjasama antara Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor dengan Proyek Pengembangan Usaha Hortikultura Pusat. Direktorat Bina Produksi Hortikultura. Departemen Pertanian, Jakarta.

Anonim. 2013. Tanaman Manggis (Garcinia mangostana) sebagai Antibakteri terhadap Psesudomonas aeruginosa. <http://a-research.upi.edu/operator/upload/bab_2(2).pdf>. Diakses 29 Desember 2014.
Pusat Kajian Buah-buahan Tropika. 2004. Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Kebun Manggis Rakyat Cengal Leuwiliang. LP2M IPB, Bogor.

Rukmana, R. 2003. Bibit Manggis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Suyanti dan Setyadjit. 2007. Teknologi penanganan buah manggis untuk mempertahankan mutu selama penyimpanan. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian 3: 66-73.

AntaraNews (on-line). 2013. Produksi Manggis Sumbar 18.829 Ton Setahun. <http://www.antarasumbar.com/eng/news/provinsi/d/1/332/produksi-manggis-sumbar-18-829-ton-setahun.html>. Diakses 29 Februari 2016.

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika). 2013. Laporan Tahunan. Balitbu Tropika, Solok.

Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika). 2014. Sejarah Balitbu Tropika dan Varietas Unggul Baru. <http://balitbu.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/>. Diakses 29 Desember 2014.

Dorly, S. T., J. A. Silva, R. Poerwanto….. 2011. Calcium spray reduces yellow latex on mangosteen frut (Garcinia mangostana L.). Journal of Fruit and Ornamental Plant Research 19: 51-65.

Fransiska, A., R. Hartanto, B. Lanya, dan Tamrin. 2013. Karakteristik fisiologi manggis (Garnicia mangostana L.) dalam penyimpanan atmosfer termodifikasi. Jurnal Teknik Pertanian Lampung 2: 1-6.

Harrow, S. 2006. The Miraculous Mangosteen. <http://www.disabledworld.com/artman/publish/mangosteen.shtml.>. Diakses 29 Desember 2014.

Jung, H. A., B. N. Su, W. J. Kelle, R. G. Mehta, and A. D. Kinghorn. 2006. Antioxidant xanthones from pericarp of garcinia. Journal Agriculture Food Chemistry Mar 54: 76-82.

Mansyah, E. dan I. Muas. 2006. Manggis serupa tapi tak sama. Iptek Hortikultura 2: 12-16.

Martias. 2012. Studi peranan lingkungan (sifat kimia dan fisika tanah serta cuaca) terhadap cemaran getah kuning buah manggis (Garcinia mangostana). Disertasi. IPB, Bogor.

Martias. 2014. Usaha tani konservasi berbasis di lahan kering (DAS) berbasis tanaman buah. Laporan Balai Penelitian Tanaman Buah. Balitbu Tropika, Solok.

Mardiana, L. 2012. Ramuan dan Khasiat Kulit Manggis. Penebar Swadaya, Jakarta.

Plantamor. 2012. Manggis. <http://www.plantamor.com/index.php?plant=610>. Diakses 29 Desember 2014.



         
LAMPIRAN
Lampiran 1
JADWAL KEGIATAN PKL DI BALITBU, SOLOK
Nama               : Khamilatun Khusna
NIM                : 11382203036
Tanggal           : 01 Februari- 29 Februari 2016
NO
TANGGAL
KEGIATAN
1.
Senin, 01 Februari 2016
Apel pagi, jumpa pembimbing, istirahat makan siang, mengunjungi kebun manggis bersama dengan pembimbing, membantu Nurmalinda pratiwi melakukan pengamatan di Kp. Rambutan, Pulang.
2.
Selasa, 02 Februari 2016
Pustaka, mendownload jurnal manggis, jumpa pembimbing, diskusi dan pemberian judul, membantu siti purminah melakukan pemetaan tanaman manggis sambung pucuk, istirahat, membantu Nurmalinda Pratiwi di Kp. Rambutan, pulang.
3.
Rabu, 03 Februari 2016
Membaca di perpustakaan, jumpa pembimbing, pemetaan tanaman manggis sambung pucuk Siti purminah, melakukan pelabelan bibit tanaman manggis yang berasal dari empat kultivar yang berbeda di Kp. Sumani bersama Siti purminah
4.
Kamis, 04 Februari 2016
Membantu melakukan pemetaan tanaman manggis sambung pucuk Siti purminah, jumpa pembimbing dan diskusi, memantu Siti purminah melakukan pemanenan, istirahat, membantu Karakterisasi hasil panen manggis sambungan milik Siti purminah
5.
Jumat, 05 Februari 2016
Senam pagi, membuat laporan dan mencari literatur di perpustakaan, istirahat, mendengarkan ceramah agama (wirid bulanan), menemui pembimbing.
6.
Sabtu & Minggu, 06-07 Februari 2016
LIBUR
7.
Senin, 08 Februari 2016
LIBUR
8.
Selasa, 09 Februari 2016
Mengetik pendahuluan laporan, diskusi dengan pembimbing, istirahat, mencari jurnal manggis, pulang
9.
Rabu, 10 Februari 2016
Membaca di perpustakaan, jumpa pembimbing, mencari jurnal, menderetkan data, istirahat, jumpa pembimbing, membaca di perpustakaan, pulang
10.
Kamis, 11 Februari 2016
Memasukkan data, istirahat, memasukkan data, pulang
11.
Jumat,12 Februari 2016
Senam pagi, mengikuti seminar mingguan, istirahat, menemui pembimbing dan mencari literatur di perpustakaan
12.
Sabtu & Minggu 13-14 Februari 2016
LIBUR
13.
Senin, 15 Februari 2016
Apel Pagi, Mencari literatur di perpustakaan, jumpa pembimbing, membantu penelitian teman, istirahat, membuat tabel regresi, pulang
14.
Selasa, 16 Februari 2016
Membuat tabel regresi, membantu teman di lab. Pasca panen, berangkat ke sumani melakukan pengamatan kedua bersama Mentari, istirahat, merapikan data, menjadi responen penelitian  Siti Maisaroh, pulang
15.
Rabu,17 Februari 2016
Upacara memperingati hari kesadaran nasional, mencari literatur di perpustakaan, panen buah manggis bersama Siti Purminah dan pembimbing lapangan, mengambil alat karakterisasi di ruangan pembimbing lapangan, istirahat, melakukan pelabelan hasil panen dan pengkodean,  penimbangan bobot buah manggis, pulang
16.
Kamis, 18 Februari 2016
Masuk ke Lab.1 mengambil plastic sampel dan boring karakterisasi, karakterisasi manggis, istirahat, lanjut karakterisasi manggis, pulang
17.
Jumat, 19 Februari 2016
Senam pagi, karakterisasi manggis, istirahat, membuat tabel data baru, revisi data yang tidak akurat, membuat pembahasan bersama pembimbing lapangan, pulang.
18.
Sabtu & Minggu, 20-21 Februari 2016
LIBUR
19.
Senin, 22 Februari 2016
Apel pagi, masuk Lab.1, Jumpa pembimbing, karakterisasi manggis, jumpa pembimbing, istirahat, membuat laporan bersama pembimbing, pulang
20.
Selasa, 23 Februari 2016
Membaca di perpus, membuat laporan di kos, acara visitasi super visi pembimbing dan ketua prodi UIN SUSKA RIAU dengan mahasiswa PKL, pulang
21.
Rabu, 24 Februari 2016
Mengolah data dan membuat laporan di Lab.1, istirahat, membaca di perpus, pulang.
22.
Kamis, 25 Februari 2016
Membuat laporan di pondok buah naga, istirahat, membuat laporan dan mengirimkan revisi laporan melalui e-mail, mencari buku di perpus, pulang
23.
Jumat, 26 Februari 2016
Senam pagi, Mengikuti seminar mingguan, istirahat, membaca di perpustakaan, pulang
24.
Sabtu & Minggu, 27-28 Februari 2016
LIBUR
25.
Senin, 29 Februari 2016
Apel pagi, membuat laporan di perpustakaan, istirahat, menemui pembimbing, revisi laporan dengan pembimbing, tandatangan jurnal harian, lanjut membuat laporan di perpus, pulang.
Lampiran 2. Foto Kegiatan Praktek Kerja Lapang di Aripan dan KP Sumani

    
(a)
                     (a)                                      (b)                                   (c)
   
                                      (d)                                                       (e)                                           
 
                    (f)                                            (g)                                            (h)
Gambar: (a) Pelabelan bibit manggis, (b) pengacakan sampel, (c) hasil sampel bibit manggis yang telah di acak, (d) panenmanggis sambungan umur 5 tahun, (e) menjadi responden penelitian kitosan pada sawo, (f) Mengunjungi kebun manggis bersama pembimbing lapangan (g) kulit manggis sisa karakterisasi penelitian siti purminah tanaman manggis sambungan 5 tahun, (h) hasil panen mangis sambungan







Lampiran 3. Gambar alat dan bahan yang digunakan pada saat pengamatan

 
   
 
                                                                                 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar